Yogyakarta — Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Mengatasi Krisis Pendidikan: Menata Ulang Ekosistem Profesi Guru demi Keberlanjutan Kualitas Bangsa” pada 4 Mei 2026 di Convention Hall Lt. 1 UIN Sunan Kalijaga.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Iwan Pranoto, M.Sc., Ph.D (Institut Teknologi Bandung) dan Sibawaihi, M.Ag., M.A., Ph.D, dengan Dr. Sumbaji Putranto, M.Pd sebagai moderator.
Dalam sambutannya, Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd, menegaskan bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak hanya bersifat seremonial, tetapi harus menjadi momentum refleksi kritis terhadap arah dan desain sistem pendidikan nasional. Ia menekankan urgensi penguatan profesi guru sebagai fondasi utama dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Dalam sesi pemaparan, Prof. Iwan Pranoto menggarisbawahi perlunya paradigm shift dalam pendidikan, khususnya dalam merespons dinamika dunia yang semakin kompleks, tidak pasti, dan penuh disrupsi. Ia mengkritisi kecenderungan early specialization dalam pendidikan tinggi yang dinilai kontraproduktif terhadap kebutuhan masa depan. Menurutnya, pendekatan generalist education yang menekankan transferable skills, kemampuan berpikir lintas disiplin, serta fleksibilitas kognitif justru menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian global.
Ia juga menekankan bahwa orientasi pendidikan tidak boleh semata-mata berbasis pada kebutuhan industri jangka pendek (short-term labor market demand), tetapi harus diarahkan pada penguatan fondasi intelektual, etika, dan kapasitas adaptif jangka panjang. Integrasi pendekatan STEAM serta penguatan dimensi humanistik dan spiritual menjadi bagian dari strategi transformasi pendidikan yang holistik.
Sementara itu, Sibawaihi, M.Ag., M.A., Ph.D mengangkat perspektif comparative education dengan menelaah praktik sistem pendidikan di berbagai negara maju seperti Finlandia dan Jepang. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sistem pendidikan di negara-negara tersebut tidak hanya terletak pada desain kurikulum, tetapi pada konsistensi policy implementation, kualitas dan profesionalisme guru, serta kuatnya budaya belajar sebagai bagian dari ekosistem sosial.
Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi berbagai fenomena krusial, seperti fragmentasi kebijakan, ketimpangan kualitas pendidikan, serta tekanan disrupsi teknologi yang menuntut respons sistemik, bukan parsial. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan systemic reform yang mencakup penataan ulang kebijakan pendidikan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang menyeimbangkan antara capaian akademik (academic achievement) dan pembentukan karakter (character building). Dalam konteks ini, guru harus diposisikan sebagai key driver of change yang tidak hanya berperan sebagai knowledge transmitter, tetapi juga sebagai fasilitator pembelajaran, pembimbing nilai, dan agen transformasi sosial.
Ia juga menyoroti pentingnya integrasi antara literasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga pendidikan tidak kehilangan arah di tengah arus digitalisasi yang masif. Dengan demikian, arah kebijakan pendidikan Indonesia ke depan perlu mengedepankan keseimbangan antara inovasi, stabilitas kebijakan, dan penguatan nilai-nilai fundamental.
Diskusi yang dipandu oleh Dr. Sumbaji Putranto, M.Pd berlangsung dinamis dan reflektif, serta membuka ruang dialog strategis terkait arah reformasi pendidikan nasional.
Melalui kegiatan ini, FITK UIN Sunan Kalijaga menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam mendorong evidence-based policy discourse serta penguatan profesi guru sebagai pilar utama dalam mewujudkan sistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
(TIM Humas FITK)