Yogyakarta — Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga kembali memperkuat kapasitas akademiknya melalui pengukuhan Prof. Dr. Zainal Arifin sebagai Guru Besar dalam bidang Kepemimpinan Pendidikan Islam. Pengukuhan ini menjadi bagian penting dalam pengembangan keilmuan di tingkat fakultas, khususnya dalam bidang kepemimpinan pendidikan yang berbasis nilai-nilai keislaman.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Ihsan sebagai Puncak Motivasi Pemimpin Spiritual pada Lembaga Pendidikan Islam”, Prof. Zainal Arifin menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam membangun kepemimpinan di lembaga pendidikan Islam.
Ia menjelaskan bahwa kepemimpinan spiritual merupakan model kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai fundamental seperti integritas, kejujuran, kerendahan hati, serta tanggung jawab moral. Menurutnya, kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan otoritas formal, tetapi juga harus didukung oleh kekuatan batin yang mampu memberikan makna, arah, dan inspirasi bagi seluruh anggota organisasi.
Lebih lanjut, Prof. Zainal Arifin mengaitkan konsep kepemimpinan spiritual dengan teori psikologi modern, khususnya konsep self-transcendence yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow. Konsep ini menggambarkan tahap motivasi tertinggi manusia yang melampaui kepentingan pribadi demi tujuan yang lebih besar dan bermakna.
Menurutnya, konsep tersebut memiliki keselarasan dengan ajaran Islam tentang ihsan, yaitu kesadaran untuk selalu menghadirkan nilai kebaikan dalam setiap tindakan dengan orientasi kepada Allah serta dengan kualitas terbaik.
“Ihsan bukan hanya nilai spiritual, tetapi juga menjadi landasan etika dalam menjalankan peran dan tanggung jawab, baik dalam kehidupan sosial maupun profesional,” jelasnya.
Dalam perspektif Islam, nilai ihsan mendorong individu untuk berbuat baik kepada sesama, menahan amarah, memaafkan kesalahan, serta menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, ihsan tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga aplikatif dalam membangun profesionalitas.
Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, ia menegaskan bahwa ihsan dapat menjadi fondasi utama dalam membangun kepemimpinan yang tidak hanya efektif secara organisasi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan moral. Kepemimpinan berbasis ihsan diharapkan mampu melahirkan budaya kerja yang berintegritas, humanis, serta berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Pengukuhan ini sekaligus menegaskan komitmen FITK UIN Sunan Kalijaga dalam memperkuat kualitas akademik dan kontribusi keilmuan, khususnya dalam pengembangan kepemimpinan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman.
Dengan bertambahnya Guru Besar di lingkungan FITK, fakultas ini semakin memperkokoh perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pendidikan Islam yang unggul, integratif, dan berdaya saing global.
Sumber:
Humas FITK UIN Sunan Kalijaga; dokumentasi pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Zainal Arifin.