Dilihat 0 Kali

04_413_BERITA 2.png

Rabu, 08 April 2026 14:54:00 WIB

TPACK Jadi Kerangka Evaluatif Penguatan Profesionalisme Guru di Era Digital

Yogyakarta — Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga kembali menambah jajaran Guru Besar melalui pengukuhan Prof. Dr. H. Suwadi, S.Ag., M.Ag., M.Pd. sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Evaluasi Pendidikan. Pengukuhan ini tidak hanya menjadi capaian akademik personal, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan FITK dalam pengembangan keilmuan dan peningkatan mutu pendidikan.

Dalam pidato ilmiahnya bertajuk “TPACK sebagai Kerangka Evaluatif Penguatan Profesionalisme Guru Era Digital”, Prof. Suwadi menegaskan bahwa kerangka Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK) menjadi kunci dalam memperkuat profesionalisme guru di era digital.

Ia menyampaikan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Guru tidak lagi cukup hanya menguasai materi, tetapi juga dituntut mampu mengintegrasikan strategi pembelajaran dan teknologi secara efektif dalam proses belajar mengajar.

Beliau menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi dunia pendidikan, seperti menurunnya kepercayaan diri guru, dilema dalam penegakan disiplin, serta rendahnya capaian akademik siswa Indonesia, terutama dalam aspek literasi, numerasi, dan penalaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru masih perlu diperkuat secara substantif, tidak hanya administratif.

Menurutnya, selama ini profesionalisme guru kerap diukur dari aspek formal seperti sertifikasi dan tunjangan profesi. Padahal, aspek yang paling krusial terletak pada kualitas praktik pembelajaran di kelas, termasuk kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi secara relevan dengan kebutuhan peserta didik.

TPACK hadir sebagai pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan tiga komponen utama, yaitu Content Knowledge (penguasaan materi), Pedagogical Knowledge (strategi mengajar), dan Technological Knowledge (pemanfaatan teknologi). Ketiganya harus terjalin secara sinergis agar pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan kontekstual.

Lebih jauh, Prof. Suwadi menekankan bahwa TPACK tidak hanya berfungsi sebagai kerangka konseptual, tetapi juga sebagai instrumen evaluatif dalam menilai profesionalisme guru. Evaluasi berbasis TPACK dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti observasi kelas menggunakan rubrik TPACK, analisis perangkat pembelajaran, portofolio digital, refleksi diri, hingga penilaian sejawat (peer review).

Melalui pendekatan ini, penilaian tidak hanya berfokus pada materi yang diajarkan, tetapi juga bagaimana metode pengajaran diterapkan serta sejauh mana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Hasil evaluasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam merancang program pengembangan profesional guru secara berkelanjutan.

Dalam kerangka yang lebih luas, TPACK juga dinilai relevan dengan kebijakan pendidikan nasional. Pendekatan ini mendukung integrasi kurikulum, penguatan kompetensi guru, serta asesmen pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik (student-centered learning). Dengan demikian, proses pembelajaran diharapkan mampu mendorong kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan mandiri.

Selain itu, TPACK berperan penting dalam mendorong transformasi pendidikan melalui pemanfaatan teknologi. Guru tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, melainkan berperan sebagai fasilitator yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Prof. Suwadi juga menegaskan bahwa implementasi TPACK memerlukan dukungan yang memadai, baik dari segi infrastruktur teknologi, kebijakan pendidikan, maupun kesiapan sumber daya manusia. Tanpa dukungan tersebut, transformasi pendidikan akan sulit terwujud secara optimal.

Menutup pidatonya, beliau menekankan bahwa TPACK merupakan fondasi penting dalam membangun profesionalisme guru abad ke-21. Melalui integrasi konten, pedagogi, dan teknologi, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistik.

Konsep ini sekaligus menjadi dasar pembentukan profil guru ideal yang IDEALS, yakni berkarakter intelektual, dedikatif, empowered, adaptif, literat, inovatif, dan solutif dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital.

Dengan bertambahnya Guru Besar ini, FITK UIN Sunan Kalijaga semakin menegaskan komitmennya dalam memperkuat kualitas akademik, pengembangan keilmuan, serta kontribusi nyata dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Humas FITK UIN Sunan Kalijaga.