Dilihat 0 Kali

04_389_EWF.jpeg

Selasa, 15 September 2026 15:48:00 WIB

FITK UIN Sunan Kalijaga Hadirkan Perspektif Australia, Singapura, dan Indonesia tentang Masa Depan Pendidikan

Yogyakarta, 15 September 2026 — Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin memengaruhi cara manusia belajar dan mengajar menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan penting: bagaimana pendidikan dapat terus berkembang tanpa meninggalkan satu pun peserta didik?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam Kalijaga International Conference on Education (KICE) 2026 yang digelar di Convention Hall Lantai 1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (15/9/2026). Mengangkat tema “Innovation toward Education: Shaping the Future of Learning,” konferensi ini mempertemukan akademisi dari Australia, Singapura, dan Indonesia untuk berbagi gagasan mengenai arah pendidikan di tengah perubahan global.

Tiga perspektif utama disampaikan oleh Prof. Dianne Chambers dari Edith Cowan University, Australia, Dr. Elizabeth Koh Ruilin dari Nanyang Technological University, Singapura, dan Dr. Adi Nur Cahyono dari Universitas Negeri Semarang, Indonesia. Ketiganya membahas masa depan pendidikan dari sudut pandang yang berbeda, mulai dari pendidikan inklusif, pemanfaatan AI dan inovasi pedagogis, hingga pembelajaran berbasis lingkungan dan persoalan kehidupan nyata.

Bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pertemuan lintas negara tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang dialog akademik mengenai pendidikan. KICE 2026 tidak hanya menjadi forum untuk mendiskusikan perkembangan teori, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi pendidik dan peserta didik untuk melihat kembali bagaimana pembelajaran perlu dirancang agar tetap relevan dengan perubahan zaman.

Memaknai Kembali Pendidikan Inklusif

Perspektif pertama hadir dari Prof. Dianne Chambers yang mengajak peserta konferensi melihat pendidikan inklusif secara lebih luas. Dalam paparannya mengenai inclusive and special education, ia menekankan bahwa inklusi tidak hanya berbicara mengenai akses pendidikan bagi peserta didik penyandang disabilitas.

Lebih dari itu, pendidikan inklusif perlu memberikan ruang bagi keberagaman yang melekat pada setiap peserta didik, baik dalam hal cara berpikir, agama, kondisi sosial ekonomi, maupun kemampuan fisik.


Prof. Dianne menjelaskan bahwa perjalanan pendidikan telah melalui berbagai tahap, mulai dari eksklusi, ketika peserta didik dengan disabilitas bahkan tidak memperoleh kesempatan untuk mengakses pendidikan, kemudian berkembang menuju segregasi dan integrasi. Tahap yang diharapkan adalah terciptanya pendidikan inklusif, ketika seluruh peserta didik dapat belajar bersama dengan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak cukup diukur dari tersedianya akses. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan peserta didik dengan disabilitas merasa diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari komunitas kelas.

Lingkungan pembelajaran yang inklusif memungkinkan peserta didik terlibat secara lebih aktif dalam proses belajar. Hal ini menjadi semakin penting mengingat kesenjangan akses dan praktik diskriminasi terhadap peserta didik penyandang disabilitas masih menjadi persoalan di berbagai konteks pendidikan.

Karena itu, pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan persoalan sosial. Di dalamnya terdapat dimensi kemanusiaan, hak asasi, moral, hingga aspek ekonomi.

Prof. Dianne merumuskan empat unsur penting dalam membangun pendidikan inklusif, yakni access, equity, belonging, dan agency Keempat unsur tersebut menegaskan bahwa setiap peserta didik tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk masuk ke dalam sistem pendidikan, tetapi juga membutuhkan pengalaman belajar yang adil, rasa memiliki, serta kesempatan untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Gagasan tersebut sejalan dengan pendekatan Universal Design for Learning (UDL) yang menempatkan keberagaman peserta didik sebagai bagian dari pertimbangan utama dalam merancang pembelajaran.

Dengan demikian, inovasi pendidikan tidak selalu harus diwujudkan melalui penggunaan teknologi baru. Inovasi juga dapat dimulai dari keberanian untuk mengevaluasi ruang belajar yang telah tersedia: apakah ruang tersebut benar-benar memungkinkan setiap peserta didik hadir, berpartisipasi, dan berkembang?

Menempatkan AI dalam Kerangka Pedagogis

Tantangan lain mengenai masa depan pendidikan disampaikan Dr. Elizabeth Koh Ruilin dari Nanyang Technological University, Singapura. Melalui paparan bertajuk “Reframing VUCA in Education: Navigating Learning Through AI and Techno-Pedagogical Innovation,” ia mengajak peserta melihat kembali bagaimana pendidikan dapat merespons perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Menurut Dr. Elizabeth, dunia pendidikan kini berada dalam situasi yang semakin Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous (VUCA). Perubahan teknologi terjadi dengan cepat, perkembangan masa depan sulit dipastikan, jumlah informasi terus meningkat, dan masyarakat menghadapi tantangan dalam membedakan informasi yang akurat dengan informasi yang tidak dapat dipercaya.

AI menjadi salah satu bagian penting dari perubahan tersebut. Kehadirannya membuka berbagai peluang dalam pembelajaran, seperti pembelajaran adaptif, AI tutor, pengembangan konten, hingga sistem asesmen otomatis.

Namun demikian, persoalan utama pendidikan bukan semata-mata terletak pada kemampuan menggunakan AI. Menurut Dr. Elizabeth, yang jauh lebih penting adalah bagaimana teknologi ditempatkan dalam kerangka pedagogis yang tepat.

Untuk merespons situasi VUCA tersebut, ia memperkenalkan empat kata kunci, yaitu Vision, Understanding, Consideration, dan Application.

Vision berfungsi menjaga agar perkembangan pendidikan tetap berorientasi pada tujuan dan prinsip fundamental pendidikan. Understanding diperlukan agar pendidik mampu memahami perkembangan teknologi serta inovasi techno-pedagogical. Selanjutnya, Consideration memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap mempertimbangkan karakteristik peserta didik, tujuan pembelajaran, dan konteks pendidikan. Adapun Application menjadi tahap ketika gagasan tersebut diterapkan melalui pengalaman, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan.

Dalam kerangka tersebut, AI tidak ditempatkan untuk menggantikan peran manusia dalam pendidikan. Sebaliknya, AI dipandang sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran yang perlu dipahami, digunakan secara bijaksana, dan terus direfleksikan dampaknya.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi pendidik maupun peserta didik. Ketika perubahan berlangsung semakin cepat, kemampuan untuk terus belajar menjadi modal penting agar individu mampu beradaptasi dan tetap berkembang sepanjang hayat.

Menghubungkan Pembelajaran dengan Kehidupan Nyata

Sementara itu, Dr. Adi Nur Cahyono dari Universitas Negeri Semarang menghadirkan perspektif mengenai bagaimana pembelajaran dapat dirancang lebih dekat dengan lingkungan dan persoalan kehidupan sehari-hari.

Melalui presentasi berjudul “STEM Trails: Shaping the Future of Learning Through Real-World Exploration and Digital Innovation for a Sustainable Future,”Dr. Adi memperkenalkan konsep *STEM Trail* yang memadukan kegiatan pembelajaran di lingkungan nyata dengan dukungan teknologi digital.

Konsep tersebut berawal dari pengembangan Math Trails di Australia, kemudian dikembangkan melalui Math City di Frankfurt, sebelum diadaptasi sesuai dengan konteks Indonesia.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran sains, teknologi, teknik, dan matematika tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas. Lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar ketika peserta didik diberi kesempatan untuk mengamati fenomena, mengeksplorasi lingkungan, menemukan pengetahuan, dan menyelesaikan persoalan secara langsung.

Menariknya, pemanfaatan teknologi dalam pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada penggunaan perangkat digital. Peserta didik juga dapat diperkenalkan pada logika AI dan coding melalui pendekatan unplugged, sehingga pemahaman mengenai konsep dasar dapat dibangun tanpa selalu bergantung pada perangkat digital.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak sekadar menjadi sarana untuk membuat pembelajaran terlihat lebih modern. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membangun kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih kontekstual.

Pengembangan STEM Trail juga dilakukan melalui jejaring penelitian dan kerja sama internasional. Hasil penelitian dan berbagai gagasan yang berkembang dalam jejaring tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi *policy brief* yang berpotensi memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan pendidikan.

Inovasi Pendidikan Tidak Sekadar Teknologi

Beragam gagasan yang disampaikan dalam KICE 2026 menunjukkan bahwa masa depan pendidikan tidak dapat dibentuk hanya dengan mengandalkan satu pendekatan. Pendidikan perlu memastikan setiap peserta didik memperoleh akses dan merasa menjadi bagian dari lingkungan belajar. Di sisi lain, pendidik dituntut mampu merespons perkembangan AI tanpa kehilangan landasan pedagogis. Pembelajaran juga perlu semakin terhubung dengan lingkungan dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Ketiga perspektif tersebut memperlihatkan satu benang merah bahwa inovasi pendidikan tidak berhenti pada teknologi.

Inovasi justru dimulai dari keberanian untuk melihat kembali sistem yang telah berjalan, mengenali berbagai persoalan yang masih dihadapi, kemudian mencari pendekatan baru agar proses pembelajaran menjadi lebih inklusif, relevan, dan bermakna.

Semangat tersebut menjadi salah satu nilai yang dihadirkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui KICE 2026. Kehadiran akademisi dari berbagai negara dan latar belakang keilmuan membuka ruang pertukaran gagasan sekaligus memperkaya perspektif sivitas akademika dalam memahami dinamika pendidikan global.

Pada akhirnya, membicarakan masa depan pendidikan bukan hanya tentang memprediksi seperti apa pembelajaran di masa mendatang. Lebih dari itu, pendidikan hari ini perlu memiliki keberanian untuk terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi agar mampu mempersiapkan generasi menghadapi perubahan yang akan datang.