Yogyakarta, 3 September 2026— Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melaksanakan Pertemuan Orang Tua dan Wali Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027, Kamis (3/9). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus membangun sinergi antara fakultas dan keluarga dalam mendampingi proses pendidikan mahasiswa.
Mengusung tema “Sinergi Fakultas dan Keluarga dalam Membentuk Lulusan sebagai Pendidik & Pemimpin Bangsa yang Unggul, Integratif, dan Berakhlak Mulia,” pertemuan tersebut memberikan gambaran kepada orang tua dan wali mengenai lingkungan akademik, kehidupan kemahasiswaan, serta bentuk pendampingan yang dapat dilakukan keluarga selama mahasiswa menempuh pendidikan di FITK.
Pada tahun akademik 2026/2027, FITK UIN Sunan Kalijaga menerima sebanyak 1.039 mahasiswa baru yang tersebar di sembilan program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Pendidikan Matematika (PMAT), Pendidikan Biologi (PBIO), Pendidikan Kimia (PKIM), dan Pendidikan Fisika (PFIS).
Membangun Lulusan Unggul dan Berakhlak Mulia
Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan wali atas keberhasilan putra-putrinya menembus kompetisi seleksi nasional dan memilih FITK UIN Sunan Kalijaga sebagai tempat untuk menempuh pendidikan.
Menurutnya, diterimanya mahasiswa di perguruan tinggi merupakan awal dari perjalanan baru yang membutuhkan kemandirian, kedewasaan, serta tanggung jawab yang lebih besar. Karena itu, proses pendidikan di perguruan tinggi perlu dipahami sebagai proses pembentukan manusia secara utuh, bukan hanya pencapaian akademik.
FITK UIN Sunan Kalijaga mengembangkan paradigma integrasi-interkoneksi, yang menempatkan ilmu pengetahuan dan pendidikan bersama dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis sebagai bagian yang saling menyapa dan melengkapi.
Melalui paradigma tersebut, mahasiswa tidak hanya diarahkan menjadi calon pendidik yang menguasai teknologi dan keilmuan, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual serta wawasan moderasi beragama yang toleran dan inklusif.
Dukungan terhadap proses tersebut diperkuat dengan ekosistem FITK yang mencakup kurikulum mutakhir, tenaga pengajar berkualitas, serta jaringan kerja sama dengan berbagai sekolah, madrasah, institusi pemerintah, dan mitra lainnya. FITK didukung sekitar 160 dosen, yang terdiri atas guru besar, doktor, dan praktisi pendidikan.
Mahasiswa Didorong Menjadi Pembelajar Mandiri
Dalam bidang akademik, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I., menyampaikan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi perubahan pola belajar dari jenjang sekolah menuju perguruan tinggi.
Mahasiswa dituntut untuk menjadi pembelajar yang lebih mandiri. Proses pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan di kelas, tetapi juga melalui aktivitas membaca literatur, berdiskusi, melakukan penelitian, menyelesaikan tugas, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
Karena itu, sejak awal perkuliahan mahasiswa perlu membangun kebiasaan akademik yang baik. Kehadiran dalam perkuliahan, kemampuan mengatur waktu, ketepatan menyelesaikan tugas, komunikasi dengan dosen, serta kesediaan untuk aktif mencari dan mengembangkan pengetahuan menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik mahasiswa.
Mahasiswa juga perlu memahami bahwa keberhasilan studi tidak hanya diukur dari nilai, tetapi juga dari proses pembentukan kompetensi, karakter, integritas, dan kemampuan menerapkan ilmu yang diperoleh.
Dalam konteks ini, orang tua memiliki peran yang sangat penting. Memasuki perguruan tinggi bukan berarti mahasiswa tidak lagi membutuhkan dukungan keluarga. Justru pada masa transisi ini, dukungan orang tua diperlukan agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru dan tuntutan akademik yang lebih tinggi.
Orang tua diharapkan dapat memberikan dukungan tanpa mengambil alih tanggung jawab mahasiswa. Bentuk dukungan tersebut dapat berupa membangun suasana belajar yang kondusif, mendorong kedisiplinan, memberikan motivasi, serta menjadi tempat berdiskusi ketika mahasiswa menghadapi persoalan.
Orang tua juga diharapkan tidak hanya berorientasi pada pertanyaan mengenai nilai atau hasil akhir. Perhatian terhadap proses belajar, kebiasaan akademik, tantangan yang dihadapi, serta perkembangan pribadi mahasiswa menjadi bagian penting dari pendampingan keluarga.
Dengan pola pendampingan tersebut, mahasiswa tetap memperoleh dukungan sekaligus memiliki ruang untuk belajar mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan bertanggung jawab atas proses pendidikannya sendiri.
Kehidupan Kampus Tak Hanya Berlangsung di Ruang Kelas
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Dr. Winarti, M.Pd.Si., menyampaikan berbagai peluang pengembangan diri yang dapat diikuti mahasiswa di luar kegiatan akademik.
FITK memiliki sembilan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) yang menjadi wadah mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan organisasi sekaligus membangun jejaring sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing.
Selain organisasi mahasiswa, mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat melalui berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di tingkat universitas maupun unit kegiatan mahasiswa di tingkat fakultas.
Di UIN Sunan Kalijaga terdapat berbagai UKM di bidang olahraga, seni dan budaya, keilmuan dan penalaran, kewirausahaan, hingga kegiatan khusus lainnya. Mahasiswa dapat mengembangkan potensi melalui berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, paduan suara, teater, film, pengembangan bahasa asing, komunitas keilmuan, koperasi mahasiswa, hingga kepramukaan.
Di tingkat FITK, tersedia pula berbagai unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang religi dan pengembangan karakter, seni, media dan kreativitas, lingkungan, hingga kepenulisan.
Kegiatan kemahasiswaan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar di luar kelas. Melalui organisasi dan aktivitas pengembangan minat-bakat, mahasiswa dapat mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, kreativitas, pengambilan keputusan, serta manajemen waktu.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk mampu menemukan keseimbangan antara kewajiban akademik dan kegiatan pengembangan diri.
Beasiswa dan Kesejahteraan Mahasiswa Menjadi Perhatian
Aspek kesejahteraan mahasiswa juga menjadi bagian dari pemaparan bidang kemahasiswaan. FITK turut memfasilitasi informasi dan penyaluran berbagai program beasiswa, baik dari lingkungan UIN Sunan Kalijaga maupun dari mitra eksternal.
Beberapa program yang disampaikan antara lain KIP, Baznas, UPZ, BIB, LPDP, Djarum, pemerintah daerah, dan berbagai sumber lainnya. Dalam data yang disampaikan, terdapat 627 mahasiswa FITK yang telah terdata dalam program beasiswa.
Selain dukungan beasiswa, perhatian juga diberikan kepada mahasiswa yang menghadapi persoalan kesejahteraan, termasuk mahasiswa kurang mampu, korban bencana, serta mahasiswa yang membutuhkan layanan dan dukungan terkait kesehatan mental.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pendampingan mahasiswa di FITK diarahkan secara menyeluruh. Aspek akademik, pengembangan karakter, aktivitas kemahasiswaan, hingga kesejahteraan mahasiswa menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang saling berkaitan.
Orang Tua sebagai Mitra Strategis Fakultas
Pertemuan orang tua dan wali mahasiswa baru juga menjadi momentum untuk menyamakan pemahaman mengenai perubahan peran keluarga ketika anak memasuki perguruan tinggi.
Pada fase ini, mahasiswa memang perlu belajar mandiri. Mereka dituntut aktif mencari sumber belajar, melakukan riset secara independen, berdiskusi secara kritis, mengelola waktu, serta bertanggung jawab terhadap keputusan dan proses belajarnya.
Namun demikian, kemandirian mahasiswa tidak berarti menghilangkan peran orang tua. Peran tersebut justru berubah dari mengawasi secara langsung menjadi mendampingi dan memberikan dukungan.
Orang tua dapat menjadi mitra penting dalam menjaga motivasi belajar mahasiswa, membangun kebiasaan positif, mengingatkan pentingnya integritas akademik, serta memberikan dukungan emosional ketika mahasiswa menghadapi tekanan atau tantangan.
Komunikasi yang terbuka antara mahasiswa dan keluarga juga perlu terus dibangun. Orang tua diharapkan dapat menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan pengalaman, kesulitan, maupun perkembangan yang mereka alami selama menjalani perkuliahan.
Di sisi lain, mahasiswa perlu diberi kepercayaan untuk belajar menyelesaikan persoalannya sendiri. Dengan demikian, pendampingan orang tua tidak membuat mahasiswa menjadi bergantung, tetapi justru membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang matang dan bertanggung jawab.
Dalam kerangka yang lebih luas, fakultas dan keluarga diharapkan menjadi dua lingkungan pendidikan yang saling melengkapi. Fakultas menyediakan ruang akademik, pengembangan kompetensi, organisasi, dan layanan mahasiswa, sementara keluarga memberikan dukungan, penguatan nilai, motivasi, dan pendampingan dari lingkungan terdekat mahasiswa.
Bersama Mengawal Perjalanan Mahasiswa
Pertemuan Orang Tua dan Wali Mahasiswa Baru FITK UIN Sunan Kalijaga Tahun Akademik 2026/2027 pada akhirnya menegaskan bahwa pendidikan mahasiswa merupakan tanggung jawab bersama.
Perguruan tinggi tidak hanya bertugas mengantarkan mahasiswa meraih gelar akademik, tetapi juga membentuk calon pendidik dan pemimpin yang memiliki kompetensi, integritas, kedalaman spiritual, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian terhadap masyarakat.
Pada saat yang sama, keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Sinergi antara fakultas dan orang tua diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung mahasiswa untuk belajar, bertumbuh, menghadapi tantangan, dan menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Dengan kolaborasi tersebut, FITK UIN Sunan Kalijaga berkomitmen bersama keluarga untuk mengawal perjalanan mahasiswa menuju generasi yang kompeten, cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. (AF)