Dilihat 0 Kali

04_961_Sospem (1).png

Selasa, 25 Agustus 2026 23:55:00 WIB

Mahasiswa Baru Perlu Lebih dari Orientasi

Setiap awal tahun akademik, perguruan tinggi menyambut mahasiswa baru dengan orientasi: pengenalan kampus, sistem akademik, layanan mahasiswa, aturan, organisasi, hingga pelatihan manajemen waktu dan integritas akademik. Semua itu penting. Namun pertanyaan yang lebih mendasar adalah: setelah menerima informasi tersebut, apakah mahasiswa benar-benar mampu menjalani kehidupan perguruan tinggi?

Mengetahui apa yang harus dilakukan tidak sama dengan mampu melakukannya. Mahasiswa bisa memahami pentingnya manajemen waktu, tetapi tetap kewalahan ketika beberapa tugas datang bersamaan. Mereka tahu plagiarisme dilarang, tetapi belum tentu mampu membaca berbagai sumber, melakukan parafrasa, menyusun sintesis, dan membangun argumen sendiri.

Di sinilah batas orientasi terlihat. Orientasi memberi mahasiswa peta; pengembangan kapasitas membantu mereka belajar menggunakan peta itu ketika menghadapi situasi nyata.

Transisi ke perguruan tinggi memang bukan sekadar perpindahan tempat belajar. Mahasiswa menghadapi tuntutan kemandirian, pola relasi dengan dosen, sistem evaluasi, dan tanggung jawab akademik yang berbeda. Tinjauan Purnamasari, Kurniawati, dan Rifameutia (2022) menunjukkan bahwa penyesuaian mahasiswa tahun pertama berkaitan dengan prestasi akademik, stres, kecemasan, depresi, dan kesejahteraan, serta dipengaruhi faktor individual maupun lingkungan.

Van der Zanden dkk. (2018), melalui telaah terhadap 80 studi, juga menunjukkan bahwa keberhasilan tahun pertama tidak hanya menyangkut nilai. Ia mencakup prestasi akademik, kemampuan berpikir kritis, dan kesejahteraan sosial-emosional. Keterampilan belajar, motivasi, relasi sosial, dan partisipasi dalam program tahun pertama termasuk faktor yang berkontribusi.

Artinya, mahasiswa tidak beradaptasi sendirian. Lingkungan universitas ikut menentukan apakah proses transisi menjadi pengalaman perkembangan atau justru sumber kesulitan.

Karena itu, kampus perlu bergerak dari sekadar orientasi menuju pengembangan kapasitas transisi. Istilah ini dapat dipahami sebagai kemampuan mahasiswa mengenali tuntutan baru, memilih respons, memanfaatkan sumber daya, mengevaluasi hasil, lalu mengubah strategi ketika cara pertama tidak berhasil. Mahasiswa adaptif bukan mahasiswa yang tidak pernah mengalami kesulitan, tetapi mahasiswa yang tahu apa yang harus dilakukan setelah kesulitan muncul.

Implikasinya jelas. Program mahasiswa baru tidak cukup berhenti pada minggu pertama. Setelah tugas atau ujian pertama, mahasiswa perlu dibantu membaca umpan balik, mengevaluasi strategi belajar, mengenali kapan harus meminta bantuan, dan memperbaiki cara belajarnya. Integritas akademik pun seharusnya tidak hanya diajarkan sebagai daftar larangan, tetapi sebagai kemampuan nyata melakukan sitasi, parafrasa, sintesis, dan mempertanggungjawabkan karya sendiri, termasuk ketika menggunakan kecerdasan buatan.

Pengembangan kapasitas juga membutuhkan keseimbangan antara tantangan dan dukungan. Mahasiswa perlu diberi ruang mencoba, gagal, menerima umpan balik, dan memperbaiki strategi tanpa dibiarkan menghadapi seluruh persoalan sendirian.

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan transition pedagogy Kift, Nelson, dan Clarke (2010), yang menempatkan pengalaman tahun pertama sebagai “everybody’s business”: tanggung jawab institusional yang menghubungkan kurikulum, pengajaran, layanan profesional, dukungan mahasiswa, keterlibatan, dan rasa memiliki.

Evaluasinya juga harus berubah. Walker dkk. (2026), dalam tinjauan sistematis terhadap 22 studi orientasi, menemukan ketidakselarasan antara tujuan program dan luaran yang diukur. Maka keberhasilan tidak cukup dinilai dari jumlah peserta atau kepuasan terhadap acara. Pertanyaan yang lebih penting muncul beberapa bulan kemudian: apakah mahasiswa semakin mampu belajar mandiri, menggunakan umpan balik, meminta bantuan, membangun jejaring, dan menyesuaikan strategi?

Orientasi tetap penting. Tetapi ia seharusnya menjadi awal, bukan akhir. Tugas perguruan tinggi bukan hanya memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru, melainkan membantu mereka belajar menjadi mahasiswa.