Dilihat 0 Kali

04_194_ORIENTASI PPG DALJAB (Zoom Virtual Background) (1).png

Rabu, 27 Mei 2026 17:55:00 WIB

FITK Dorong Kebijakan Teknologi sebagai Penggerak Utama Internasionalisasi Kampus

YOGYAKARTA — Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar konferensi internasional International Conference on Islamic Elementary Education 2026 secara daring pada Selasa, 26 Mei 2026. Forum ilmiah yang diinisiasi oleh Program Studi Doktor Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) ini dihadiri ratusan akademisi lintas negara Asia Tenggara untuk membedah penguatan resiliensi serta masa depan etis generasi muda melalui pendidikan dasar Islam.

Acara ini dibuka resmi oleh Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd., yang menekankan bahwa pendidikan dasar Islam merupakan fondasi mutlak pembentukan karakter dan moral anak di era digital. Konferensi ini juga menghadirkan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Prof. Dr. Hajah Isiningcih, Ph.D., yang memaparkan kerangka konseptual mengenai pentingnya memposisikan digitalisasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) sebagai subjek sekaligus penggerak (driver) dalam perumusan kebijakan perguruan tinggi menuju keterlibatan global (global engagement).

"Konferensi ini merupakan wujud upaya terus-menerus kami dalam meneguhkan keunggulan program studi menuju rekognisi global. Kehadiran para pakar lintas negara ini sangat berharga dalam menambah perspektif global pada dunia pendidikan guru MI, khususnya mengenai bagaimana kita menyiapkan generasi masa depan yang tangguh dan beretika,"

— Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd. (Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga)

Sejalan dengan itu, forum mendiskusikan bahwa integrasi sistem teknologi informasi terbukti mempermudah akuntabilitas kelembagaan, termasuk dalam menjamin transparansi sistem penerimaan mahasiswa baru nasional.

Dalam sesi tanya jawab, para peserta dan penelaah memberikan respons mendalam mengenai tantangan integritas akademik akibat meluasnya penggunaan AI. Prof. Isiningcih merespons bahwa universitas tidak boleh alergi, melainkan harus menggunakan AI secara bijak dan mulai mengembangkan infrastruktur digital serta aplikasi khusus untuk mengecek tingkat orisinalitas karya ilmiah mahasiswa guna menyaring plagiasi berbasis AI.