Dilihat 0 Kali

UIN SUKA

Kamis, 03 September 2026 12:10:00 WIB

Ketika Anak Kuliah, Peran Orang Tua Belum Selesai

Ada anggapan bahwa tugas orang tua selesai ketika anak diterima di perguruan tinggi. Setelah resmi menjadi mahasiswa, urusan akademik dianggap sepenuhnya menjadi tanggung jawab kampus. Orang tua cukup membayar biaya pendidikan, sedangkan fakultas mengurus perkuliahan.

Pandangan tersebut masuk akal, tetapi tidak sepenuhnya sesuai dengan kehidupan mahasiswa. Kuliah memang menjadi tahap penting menuju kedewasaan. Mahasiswa dituntut mengambil keputusan, mengelola waktu, membangun pergaulan, menghadapi kegagalan, dan mempertanggungjawabkan pilihan akademiknya. Namun, perubahan status menjadi mahasiswa tidak serta-merta membuat seseorang siap menghadapi semua tuntutan itu.

Tantangan tersebut terutama terasa pada tahun pertama. Mahasiswa harus menyesuaikan diri dengan cara belajar yang lebih mandiri, beban akademik yang berbeda, lingkungan sosial baru, persoalan keuangan, dan prosedur kampus yang belum dikenalnya. Sebagian dapat melewati masa transisi ini dengan baik. Sebagian lainnya mulai kehilangan arah tanpa segera diketahui.

Dalam keadaan seperti itu, keluarga tetap menjadi sumber dukungan penting. Tinjauan sistematis Li et al. (2025) menunjukkan bahwa dukungan sosial, termasuk dari keluarga, berkaitan dengan kesejahteraan psikologis mahasiswa, kemampuan menghadapi tekanan, dan kepuasan hidup. Dukungan keluarga juga dapat membantu mahasiswa menjaga motivasi dan bertahan ketika menghadapi kesulitan.

Persoalannya bukan apakah orang tua masih perlu terlibat, melainkan bagaimana mereka sebaiknya terlibat.

Keterlibatan orang tua sering ditempatkan pada dua pilihan ekstrem. Pada satu sisi, orang tua dijauhkan karena mahasiswa dianggap telah dewasa. Pada sisi lain, orang tua diberi ruang terlalu besar sehingga merasa berhak memantau nilai, mempersoalkan keputusan dosen, atau menyelesaikan masalah akademik atas nama anak.

Kedua pilihan itu sama-sama bermasalah. Menutup keterlibatan orang tua berarti mengabaikan sumber dukungan yang dapat membantu mahasiswa. Sebaliknya, keterlibatan berlebihan dapat menghambat perkembangan kemandirian. Meta-analisis terhadap 28 studi dengan 9.214 responden menunjukkan bahwa helicopter parenting berkaitan dengan terhambatnya pemenuhan kebutuhan psikologis mahasiswa serta lebih rendahnya kepuasan hidup dan kinerja akademik (Zaremohzzabieh et al., 2025).

Karena itu, dukungan harus dibedakan dari pengambilalihan. Orang tua dapat mendengarkan keluhan mahasiswa tanpa langsung menghubungi dosennya. Mereka dapat membantu anak mempertimbangkan beberapa pilihan tanpa mengambil keputusan untuknya. Orang tua juga dapat mendorong mahasiswa mencari pertolongan, tetapi mahasiswa sendirilah yang seharusnya menemui dosen penasihat akademik, pengelola program studi, bagian keuangan, atau layanan konseling.

Penelitian Song et al. (2024) terhadap 1.908 mahasiswa di Tiongkok menunjukkan bahwa dukungan orang tua terhadap otonomi mahasiswa berhubungan positif dengan keterlibatan dalam pembelajaran daring. Sekitar 44–50 persen hubungan tersebut dijelaskan secara statistik oleh kemampuan regulasi diri. Artinya, dukungan orang tua menjadi produktif ketika membantu mahasiswa mengatur dirinya, bukan ketika menggantikan tanggung jawabnya.

Hasil yang sejalan ditemukan dalam penelitian terhadap mahasiswa Indonesia dan Turki. Suud et al. (2024) menunjukkan bahwa dukungan sosial keluarga berkaitan dengan resiliensi akademik melalui kemampuan mahasiswa mengatur proses belajarnya sendiri. Dukungan keluarga perlu diterjemahkan menjadi kemampuan menetapkan tujuan, mengelola waktu, mengevaluasi kemajuan, dan memperbaiki strategi belajar.

Dukungan emosional juga tidak kalah penting dibandingkan dukungan finansial. Penelitian Roksa dan Kinsley (2019) terhadap 728 mahasiswa tahun pertama berpenghasilan rendah menunjukkan bahwa dukungan emosional keluarga berkaitan dengan nilai, perolehan kredit, dan keberlanjutan studi. Temuan itu mengingatkan bahwa membiayai kuliah hanyalah salah satu bentuk dukungan. Kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan kepercayaan, dan membantu mahasiswa bangkit dari kegagalan dapat sama pentingnya bagi keberhasilan studi.

Kampus juga perlu membuka ruang komunikasi dengan keluarga. Selama ini, hubungan perguruan tinggi dengan orang tua umumnya terjadi ketika penerimaan mahasiswa baru, pembayaran biaya pendidikan, dan wisuda. Di antara ketiga peristiwa itu, komunikasi sering terputus. Ketika masalah muncul, orang tua belum tentu mengetahui prosedur kampus atau layanan yang dapat digunakan mahasiswa.

Kesenjangan informasi ini semakin terasa pada keluarga mahasiswa generasi pertama. Istilah tersebut merujuk pada mahasiswa yang orang tua atau walinya tidak pernah kuliah atau tidak menyelesaikan pendidikan tinggi. Jadi, yang disebut “generasi pertama” adalah mahasiswanya. Ia menjadi generasi pertama dalam keluarganya yang menempuh atau berpeluang menyelesaikan pendidikan tinggi.

Orang tua dalam keluarga tersebut dapat memiliki harapan dan komitmen yang kuat terhadap pendidikan anak. Namun, karena belum memiliki pengalaman langsung dengan perguruan tinggi, mereka mungkin belum memahami istilah seperti SKS, indeks prestasi, cuti akademik, evaluasi studi, atau fungsi dosen penasihat akademik.

Penelitian Flanagan-Bórquez dan Soriano-Soriano (2024) menunjukkan bahwa orang tua atau wali mahasiswa generasi pertama memberikan dukungan sosial-emosional, ekonomi, dan teknologi. Mereka juga melakukan berbagai pengorbanan dan penyesuaian agar anak dapat melanjutkan pendidikan. Keterbatasan pengetahuan mengenai dunia kampus karena itu tidak boleh disamakan dengan kurangnya kepedulian.

Perguruan tinggi dapat membantu keluarga memahami cara kerja pendidikan tinggi melalui buku saku, kalender akademik, informasi bantuan keuangan, penjelasan layanan konseling, dan jalur memperoleh bantuan. Deutschlander (2019) menunjukkan bahwa pesan kepada orang tua dapat meningkatkan percakapan orang tua–mahasiswa, memperkuat pandangan mahasiswa mengenai pentingnya berinteraksi dengan dosen dan staf, serta meningkatkan niat untuk melanjutkan studi ke tahun kedua.

Namun, pelibatan keluarga harus dirancang dengan hati-hati. Wang et al. (2025) menemukan bahwa program informasi bagi orang tua belum menunjukkan bukti kuat dalam meningkatkan IPK atau retensi mahasiswa. Kekhawatiran orang tua justru meningkat setelah mengikuti program. Karena itu, semakin banyak informasi tidak selalu berarti semakin baik. Informasi perlu membantu orang tua mendukung mahasiswa, bukan mendorong pengawasan yang berlebihan.

Pada akhirnya, orang tua bukan pelanggan yang dapat mengendalikan proses akademik hanya karena membayar biaya pendidikan. Mereka juga bukan pihak luar yang harus selalu dijauhkan. Orang tua adalah mitra pendukung.

Sinergi yang sehat tidak ditandai oleh semakin besarnya campur tangan keluarga. Sinergi itu berhasil ketika orang tua tetap hadir, kampus mudah dijangkau, dan mahasiswa tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengarahkan perjalanan studinya sendiri.

kolom Terbaru