Selasa, 23 Agustus 2016 09:00:36 WIB Dilihat : 474 kali

Opini ini ditulis untuk menindak lanjuti pernyataan Mendikbud RI baru dari hasil reshuffle kabinet, Muhadjir Effendy, menggantikan Anies Baswedan yang dikeluarkan tanpa diketahui alasan sebenarnya. Beberapa hari lalu, Muhadjir Effendy menggagas program baru di sekolah yang disebut sistem full day school atau sekolah sepanjang hari untuk SD/SMP negeri maupun swasta dengan alasan untuk membangun karakter siswa. Dengan sistem tersebut anak diharapkan tidak menjadi liar ketika pulang dari sekolah, terutama mereka yang orang tuanya bekerja di perkantoran. Karena siswa akan dipulangkan jam lima sore, dimana orang tua mereka sudah pulang dari tempat kerjanya. Sehingga ketika pulang sekolah siswa sudah ada dalam pengawasan orang tua.

Gagasan tersebut tentu saja menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan, baik pemerintah maupun akademisi pendidikan termasuk guru dan kepalah sekolah, terutama di wilayah pedesaan. Salah satu di antaranya pernyataan Gubernur Jawa Tengah yang termuat di harian Tribun Jogja edisi Selasa Legi (09/08) kemarin. Beliau menyarankan agar pemerintah mengkaji ulang sistem full day school yang digagasnya. Mengingat program lima hari sekolah saja sudah menimbulkan problem di berbagai daerah, terutama wilayah pedesaan. Apalagi sistem full day school yang memakan banyak waktu bagi siswa dan guru di sekolah.

Sebagaimana disampaikan oleh Muhadjir Effendy, bahwa sistem tersebut untuk meminimalisir aktivitas liar siswa sehabis pulang dari sekolah karena orang tua mereka belum pulang dari tempat kerja sehingga siswa tidak berada dalam pengawasan orang tuanya. Dengan demikian sistem full day school tersebut hanya bisa diberlakukan pada wilayah perkotaan yang memang kebanyakan orang tua siswa bekerja di perkantoran. Sementara di wilayah pedesaan alat transportasi sangat sulit dan rata-rata orang tua siswa tidak bekerja di perkantoran, mereka berada di rumah pada siang hari sehingga siswa tetap ada dalam pengawasan mereka ketika pulang dari sekolah.

Pemerintah seharusnya mempertimbangkan kembali program yang akan dijalankan tersebut. Tentu saja mereka harus melihat keadaan masyarakat sehingga tujuan dari program tersebut relevan dan bisa diterima oleh seluruh komponen yang ada di wilayah Indonesia. Mengingat negara Indonesia terdiri dari banyak pulau dan pedesaan terpencil yang keadaan SDM, ekonomi dan geografisnya bervariasi.

Memblokir Jam Istirahat Siswa

Sebagaimana dipaparkan oleh Mendikbud RI, Muhadjir Effendy, bahwa sistem full day school mensyaratkan siswa tetap berada di sekolah sepanjang hari sampai jam lima sore. Siswa diberi kegiatan mengerjakan tugas dan ibadah sesuai keyakinan masing-masing sehingga mereka tidak mereka beban tugas ketika pulang ke rumah. Tentu saja hal tersebut akan menekan otak siswa dengan kegiatan belajar yang terus menerus sepanjang hari,. Mereka seharusnya memiliki jeda antara beraktivitas dan istirahat. Selain itu banyak sekali siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau pendidikan non-formal pada sore hari, pramuka dan kursus bahasa misalnya. Sistem full day school dengan kegiatan belajar penuhnya akan melelahkan siswa yang memiliki kegiatan tambahan pada di sore hari.

Hal tersebut ada hubungannya dengan pendapat Rachman bahwa Disiplin adalah upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan dan tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari dalam hatinya. Disiplin belajar siswa tidak hanya tentang keseriusan belajar penuh tanpa memandang panjangnya waktu belajar, tetapi juga kesiapan mental, termasuk kesiapan pikiran dan fisiknya. Mereka perlu istirahat sejenak sebelum melakukan aktivitas selanjutnya, baik pendidikan formal ataupun non-formal.

Pemerintah sebaiknya tetap mempertahankan jam sekolah yang lama di mana jam sekolah hanya sampai jam satu siang hari. Karena sistem full day school tidak efektif dan efisien untuk diterapkan kepada siswa di sekolah serta meniadakan sekolah-sekolah dan lembaga non-formal, seperti Madrasah Diniyah dan TPQ-TPA yang memiliki program belajar mengajar pada sore hari.

Ketidaksiapan Sumber Daya Manusia

Sebagaimana kita ketahui bahwa pemerintah baru saja meresmikan berlakunya kurikulum 2013 yang wajib diterapkan pada semua jenjang pendidikan di seluruh Indonesia. Hal itu merupakan kesekian kalinya pemerintah merevisi program dan sistem pendidikan lama untuk meningkatkan prestasi pendidikan yang dianggap masih terbelakang dibanding negara lain. Namun program baru tersebut tidak berjalan dengan lancar dan menyeluruh dikarenakan ketidaksiapan Sumber Daya Manusia yang ada, yang meliputi semua akademisi dan praktisi pendidikan, terutama kepala sekolah yang tidak profesional di bidang manajemen pendidikan.

Menurut De Cenzo dan Robbin, Manajemen Sumber Daya Manusia menduduki posisi penting dalam suatu perusahaan/organisasi karena setiap organisasi terbentuk oleh orang-orang, menggunakan jasa mereka, mengembangkan keterampilan mereka, mendorong mereka untuk berkinerja tinggi, dan menjamin mereka untuk terus memelihara komitmen pada organisasi merupakan faktor yang sangat penting dalam pencapaian tujuan organisasi. Begitu juga dalam sistem pendidikan, SDM merupakan komponen penting yang harus diperhitungkan, baik tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan. Terutama dalam hal kompetensi dan profesionalitasnya.

Profesionalisme guru dan kepala sekolah serta oknom yang terlibat di dalam penerapan sistem pendidikan nasional masih harus dipertanyakan. Pemerintah sebaiknya membenahi SDM-nya terlebih dahulu sebelum menambah program baru yang nantinya akan terbengkalai dan sia-sia belaka. Karena kompetensi guru dan tenaga pendidikan kita sangat penting untuk mengintegrasikan antara tuntutan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat local di wilayahnya. Lebih baik program yang sedikit tetapi konsisten, dari program bertumpuk namun tidak berjalan dengan maksimal. Semoga pemerintah mampu membenahi kekurangan yang ada sehingga program sebelumnya mampu berjalan, terutama pembenahan SDM di wilayah pedesaan dan kepulauan tertinggal.

Ali Munir S., lahir pada tahun 1994 di Sumenep Madura. Sekarang mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Penulis bisa di hubungi lewat: HP. 082326129597. E-Mail: alimunir707@gmail.com. FB. Ali Munir. No. Rek. Bank Mandiri: 137-00-1136842-6

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom