Selasa, 21 Juni 2016 14:00:48 WIB Dilihat : 378 kali
Al-Qur’an, apabila dicermati secara seksama ternyata adalah semacam autobiografi Allah swt. di karenakan di dalamnya tentang apa, siapa, dan bagaimana Allah swt. yang demikian dominan diceritakan sebagai tokoh sentral. Penggambarannya demikian rinci, menyeluruh, utuh, dan tuntas. Sehingga tidak pelak lagi, bahwa Al-Qura’n adalah semacam penjelmaan Allah swt. di dalam bentuk verbalistik, yaitu berdimensi tulisan, ilustrasi, dan suara. (Muh. jarot Sensa: 2005).
Al-Qur’an adalah media komunikasi. Khususnya komunikasi antara Allah dengan manusia. Melalui Al-Qur’an, Allah menjelaskan siapa diri-Nya, dan untuk apa manusia diciptakan di dunia. Dia ingin dikenal oleh semua makhluk-Nya. Sebagaimana hadis Qudsi mengatakan: ”Aku perbendaharaan tersembunyi. Aku cinta untuk dikenal, maka Aku mencipta dan dengan demikian Aku dikenal. (Abdul Hadi W.M.:1995, 22).
Al-Qur’an adalah buku pedoman. Manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baiknya (fii ahsani taqwiim), dan Al-Qur’an sebagai pedomannya untuk memahami hakikat manusia, siapa, dari apa, dan untuk apa manusia diciptakan? Tanpa Al-Qur’an, manusia akan tersesat di dunia ini, karena di dalam Al-Qur’an berisi petunjuk-petunjuk jalan kebenaran dan keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat.
Al-Qur’an adalah jamuan Tuhan. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuan-Nya, dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya…(hadis). Banyak manusia yang enggan untuk menghadiri jamuan Allah. Mereka lebih terbuai dan berlomba-lomba menghadiri jamuan manusia yang kenikmatannya hanya sementara. Dan Tidak ada orang yang bisa menikmati jamuan Allah kecuali orang-orang yang mendapat hidayah untuk memahami makna Al-Qur’an.
Al-Qur’an memberikan kemungkinan arti yang tak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka interpretasi baru; tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal. (Muhammad Arkoun). Ibaratnya ketika kita baca Al-Qur’an berulang kali, maka kita seakan mendapat makna baru dari tiap bacaan demi bacaan, sehingga terasa tidak membosankan, malah merenungkan. Al-Qur’an akan senantiasa memberikan makna baru bagi orang-orang yang ingin memahaminya. Pemahaman seorang teolog dengan dokter terhadap satu ayat yang sama, akan menimbulkan pemahaman yang berbeda. Inilah yang dinamakan tafsir. Dunia tafsir dan teks Al-Qur’an berbeda, seakan mereka mempunyai dunia masing-masing.
Al-Qur’an adalah kitab pendidikan terbesar sepanjang masa. Allah sebagai gurunya, manusia sebagai peserta didiknya, sedangkan Al-Qur’an sebagai kitab/materi pembelajarannya. Selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, Nabi Muhammad saw. dididik secara langsung oleh Allah swt. dengan Al-Qur’an yang turun secara tahap demi tahap. Hasil didikan Allah swt. adalah Nabi Muhammad merupakan nabi yang memiliki pengikut yang banyak dan pengaruh terbesar sepanjang sejarah.
Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad sepanjang masa. Sehingga dia diakui sebagai seorang rasul/nabi Allah. Untuk membuktikan kenabian Muhammad, Al-Qur’an menempuh langkah unik. Berbeda dengan semua Kitab Suci. Al-Qur’an menantang pembaca untuk menandinginya. Salah satunya dalam Surah al-Isra [17]: 88
Terjemahannya: Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".
Ulama membagi tantangan itu menjadi tiga tingkatan yang melunak. Pertama, Al-Qur’an menantang agar manusia membuat Al-Qur’an tandingan. Sebagaimana bunyi surah al-Isra’ [17]: 88 di atas. Kedua, manusia di dorong untuk menghadirkan sepuluh surat saja kalau mereka merasa sulit menyusun sebuah Al-Qur’an. Misalnya dalam Q.S. Hud [11]: 13-14
Terjemahan: Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad Telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".(13)
Terjemahan: Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu Maka Ketahuilah, Sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, Maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?(14)
Ketiga, ketika tantangan ini tidak dijawab, Al-Qur’an melunak menantang manusia, agar mengahadirkan bahkan satu surat saja. Contohnya dalam Surah Al-Baqoroh [2]: 23-24
Terjemahan: Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.(23)
Terjemahan: Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.(24)
Ketidakmampuan manusia untuk menjawab tantangan Al-Qur’an ini disebut I’jaaz Al-Qur’aan. (Yudian Wahyudi: 2007, 12).
Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad sepanjang masa. Al-Qur’an diturunkan di tengah-tengah masyarakat Arab, sehingga Al-Qur’an berbahasa Arab. Tetapi Al-Qur’an bukanlah bahasa Arab, karena Al-Qur’an mengandung kemukjizatan dari setiap ayat-ayatnya. Dari zaman Musailamah al-Kadzab sampai sekarang, tak seorang pun yang bisa membuat kitab berbahasa Arab yang menyamai Al-Qur’an. Sehingga Al-Qur’an merupakan kitab suci terbesar sepanjang sejarah yang tidak pernah mengalami perubahan, walaupun dunia selalu berubah. Al-Qur’an diturunkan di bangsa Arab, tetapi Al-Qur’an bukanlah hanya untuk bangsa Arab karena Al-Qur’an diturunkan sebagai rahmat seluruh alam.
Al-Qur’an tidak hanya kitab yang berisi ajaran, tetapi juga ilmu pengetahuan (sains), sejarah, moral, hukum, dan lain sebagainya. Sehingga Al-Qur’an merupakan kitab pendidikan yang utuh dan menyeluruh yang senantiasa memberikan inspirasi bagi orang yang mempelajarinya, tidak memandang apakah dia beragama Islam, maupun non Islam. Ada anekdot mengatakan bahwa Orang Barat maju karena mereka meninggalkan agamanya, sedangkan umat Islam mundur karena mereka meninggalkan Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Al-Qur’an adalah surat cinta yang dikirimkan Allah melalui malaikat Jibril untuk manusia. Ketika manusia merindukan Allah, dia bisa membaca Al-Qur’an. Orang yang membaca Al-Qur’an seakan-akan membaca surat cinta yang dikirimkan Allah sebagai kekasihnya (khaliil). Dari setiap ayat demi ayat yang dibacanya, seakan dia berkomunikasi langsung di altar Allah, terasa jiwa melayang, bernostalgia dengan sang kekasih, karena Allah-lah kekasih sejati yang selalu membimbing manusia ke jalan yang benar. Rengkuhlah Al-Qur’an, niscaya Pemilik Al-Qur’an akan merengkuhmu (Muh. Chirzin).
Al-Qur’an adalah kitab yang selalu terjaga. Firman Allah swt. innaa nazzalnadz Dzikra wa innaa lahuu lahaafidzuun. Kata Iqbal, manusia adalah co-creator with GOD. Manusia adalah Ajudan Allah dalam mencipta. Para hufad} adalah ajudan Allah dalam menjaga Al-Qur’an, sehingga Al-Qur’an terhindar dari perubahan dari tangan orang yang tidak bertanggung jawab
Al-Qur’an adalah kitab suci yang memiliki nilai sastra yang tinggi dari segi bahasanya, sehingga Al-Qur’an merupakan kitab sastra terbesar. (M.Nur Kholis Setiawan). Dari tiap ayat-ayatnya, akan terpancar keindahan, keserasian, kemuliaan yang selalu menggetarkan hati bagi pembacanya. Para Qari dan Qari`ah tak kan pernah bosan melantunkan nada indah dari Al-Qur’an. Mereka terbuai oleh alunan Al-Qur’an, seakan mereka berkomunikasi langsung dengan Allah, Pemilik Kalam. Maka tak heran, banyak para pembaca Al-Qur’an, mereka menangis tersedu sedan ketika melantunkan Al-Qur’an yang mengisahkan azab Allah bagi orang-orang kafir. Dan banyak pula para pembaca Al-Qur’an, mereka tersenyum bahagia ketika membaca Al-Qur’an yang mengisahkan tentang nikmat bagi orang-orang muttaqin.
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang yang mengandung mukjizat, yang diturnkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan perantara Al-Amin, Jibril as. yang tertulis dalam mushaf., yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, yang dianggap sebagai ibadah membacanya, yang dimulai dengan surah al-Fatihah, dan ditutup dengan surah an-Nas
Sumber Inspirasi:
Muhammad Djarot Sensa, Komunikasi Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Islamika, 2005)
UII, Mukadimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf, 1991)
Abdul Hadi W.M., Hamzah Fansuri Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya,(Mizan, catakan pertama, 1995
Kuswaidii Syafi’I, Tarian Mabuk Allah, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2003) M.Nur Kholis
Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar, (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005) Muhammad
Chirzin, Course Outline Mata Kuliah Studi Al-Qur’an: teori dan Metodologi .

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom