Senin, 7 November 2011 10:41:21 WIB Dilihat : 722 kali

Drs. Hamdan Dauay, M.Si., MA (45 tahun) mengatakan, Malaysia adalah negara yang masyarakatnya multi etnik dan multi agama. Bangsa melayu merupakan separuh lebih sedikit dari seluruh penduduk Malaysia, yang memiliki kekuatan politik dan budaya yang dominan. Sisanya terdiri dari berbagai kelompok etnik, seperti Cina dan India. Di Malaysia, Islam dan identitas nasional serta politik melayu telah lama berkelindan.. Seperti tercermin dalam keyakinan umum bahwa orang Melayu pastilah Islam.

Sementara, pergerakan politik Isl;am di Malaysia, dalam perkembangannya mengalami pergeseran yang menarik. Khususnya fenomena pergerakan politik yang dilakukan oleh UMNO dan PAS. UMNO sebagai partai penguasa yang berbasis etik Melayu dan Islam bersaing keras dengan PAS sebagai partai pembangkang (oposisi) yang juga berbasis etnik Melayu dan Islam. Kedua partai ini mengalami pergeseran gerak politik, seiring dengan dinamika politik yang terjadi di tengah masyarakat. UMNO pada awalnya dikenal sebagai partai sekuler, yang didukung oeh elite partai yang berlatar belakang pendidikan Barat. Dalam perkembangan berikutnya, UMNO bergeser menjadi partai yang banyak membuat kebijakan politik yang cenderung menguntungkan etnis Melayu dan umat Islam..Pergeseran gerakan politik UMNO yang semakin banyak menguntungkan umat Islam terjadi pada masa pemerintahan Mahathir Muhammad.

Demikian antara lain hasil riset Dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga, dalam karya disertasinya untuk memperoleh Gelar Doktor bidang Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana UGM. Disertasi putra kelahiran Tapanili Selatan berjudul “Pergeseran Strategi Politik Islam di Malaysia (Studi tentang Periaku Politik UMNO dan PAS pada Masa Pemerintahan Mahathir Muhammad dan Abdullah Admad Badawi) ini dipertahankan di hadapan tim penguji antara lain : Prof. Dr. Pratikno, M. Soc., Prof. Dr. Ichlasul Amal, MA., (promotor merangkap penguji) Prof. Dr. Muchtar Mas’ud, (promotor merangkap penguji), Prof. Dr. Faisal Ismail, MA., Dr. Kuskrido Ambardi, MA., Dr. Phil Ahmad Norma Permara, MA., Dr. Sugeng Bayu Wahyono, Dr. Phil Ana Nadya Abror, M. E. S. bertempat di ruang promosi Pascasarjana Fisipol kampus UGM, Sabtu, 5 November 2011.

Menurut pengakuan Hamdan Daulay, untuk menyelesaikan riset disertasinya ini, dirinya telah melakukan survey di Malaysia, wawancawa mendalam dengan para tokoh politik dan tokoh tokoh agama, serta masyarakat di Malaysia. Semua itu dilakukan Dosen yang aktif menulis opini di berbagai media ini sejak tahun 2006. Dalam pelaksanaan risetnya, dia juga dibimbing seorang guru besar ilmu politik dari Malaysia, yakni Prof. Halim, akunya.

Lebih lanjut dalam abstraksinya, Hamdan Daulay memaparkan, dalam gerakan politiknya, Mahathir Muhammad berhasil mengajak Anwar Ibrahim bergabung dengan pemerintah. Padahal waktu itu Anwar Ibrahim dikenal sebagai tokoh ABIM yang sangat keras melakukan kritik pada penguasa. Kehadiran Anwar Ibrahim sebagai tokoh Islam ke lingkaran pemerintahan membuat kebijakan politik Islam semakin kuat dan nyata. Banyak kebijakan politik yang menguntungkan umat Islam dan etnis Melatu pada periode ini. Diantaranya; didirikannya Bank Islam, Asuransi Islam, Universitas Islam Internasional, hingga dukungan besar yang diberikan kerajaan pada kegiatan dakwah dari tingkat desa hingga nasional, kata Hamdan Daulay.

Menurut promovendus, dari hasil riset disertasinya menunjukkan bahwa, Malaysia sebagai Negara yang multi agama dan multi etnik, memang memiliki keunikan dalam kebijakan politik. Hanya sedikit Negeri Muslim di dunia ini yang telah melangkah begitu jauh seperti Malaysia, dalam upayanya memanfaatkan kekuasaan negara untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan al Qur’an dan hadis untuk kemaslahatan kehidupan umat Muslim. Satu ciri khas lagi dalam perkembangan pergerakan politik Malaysia yang belum pernah ada di Negara-negara lain adalah : peran Islam yang sangat dominan dalam politik Melayu.

Malaysia merupakan federasi dai 13 negara bagian. Yaitu 9 negara bagian merupakan kesultanan Melayu (Perlis, Kedah, Selangor, Negeri Sembilan, Pahang, Kelantan, Terengganu, Johor dan Perak). Dan 4 negara bagian non-kesultanan (Malaka, Pulau Pinang, Sabah dan Serawak). Malaysia adalah sebuah pemerintahan yang secara resmi bersifat pluralitas, dengan Islam sebagai agama resmi. Dan ternyata agama Islam (nilai-nilai al Qur’an dan Hadis) bisa memayungi semua sisi kehidupan bernegara dan bermasyarakat, tanpa menimbulkan rasa ketidakpuasan keseluruhan masyarakat Malaysia apalagi konflik. Islam serta kaum Muslim bisa menikmati kedudukan istimewa, tanpa menimbulkan kecemburuan sosial. Sementara partisipasi partai-partai Islam dalam pemilihan umun dak kiprah partai-partai Islam di Malaysia adalah sebagai oposisi. yang sah. Ini merupakan fenomena yang relatif baru di kebanyakan negeri Muslim, jelas bapak 3 putra dari istri Halimah Hotna Lubis, S. Ag.

Pihaknya berharap, hasil riset disertasinya, bisa menjadi acuan bagi kalangan akademisi, tokoh-tokoh Islam dan para politisi Islam, dalam mendesain gerakan dakwah yang persuasif. Dan bagaimana melakukan pendekatan kepada para penentu kebijakan di negeri ini, untuk dapat menghasilkan kebijakan-kebijakan pemerintahan yang terimplementasi dari nilai-nilai Qur’ani untuk kemaslahatan seluruh masyarakat Indonesia seara Adil dan merata.

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom